Legenda Desa Medono
Dusun
yang pertama adalah Dusun Pencil. Dusun dengan jumlah penduduk terbanyak di
Desa Medono ini konon dulunya adalah sebuah tempat yang sangat jauh letaknya
dari pusat pemerintahan Desa. Sebelum menjadi pemukiman yang padat penduduk
seperti sekarang ini, penduduk asli Dusun Pencil dulunya tinggal di sebuah
tempat bernama Dukuh Karangan. Dukuh Karangan ini berasal dari kata Arang ( yang dalam bahasa Jawa artinya
Jarang atau Sedikit Jumlahnya). Karena lama kelamaan di Daerah itu berdatangan
penduduk dari luar daerah karena alasan pernikahan ataupun pekerjaan, maka
semakin lama daerah itu semakin ramai. Karena daerah yang tidak memungkinkan
untuk menampung jumlah penduduk yang membludak, maka para pendatang
berinisiatif mencari tempat hunian baru. Kala itu, daerah yang masih sepi dan
terpencil dipilih untuk dijadikan pemukiman. Alasan ini didasarkan pada tingkat
pertumbuhan penduduknya yang pesat sehingga dikhawatirkan Dukuh Karangan tidak
bisa menampung lagi.
Maka
berbondong-bondong lah Penduduk Dukuh Karangan yang belum memiliki lahan menuju
Daerah terpencil tetapi luas tersebut,
sehingga akhirnya daerah yang sepi itu pun menjadi ramai dan memikat banyak
penduduk untuk bertempat tinggal di situ dan menetap. Itulah awal terjadinya
nama Pencil untuk Dusun Pencil. Adapun nama Pencil
itu disematkan merujuk pada awal muasalnya daerah itu dahulu adalah daerah yang
sangat terpencil. Sedangkan Dukuh Karangan sekarang ini menjadi bagian dari
Dusun Pencil karena secara tatanan Pemerintahan, Dukuh Karangan tidak bisa menjadi
Dusun didasarkan pada jumlah penduduknya yang tidak memenuhi kuota untuk syarat
menjadi sebuah Dusun. Nama dukuh Karangan sendiri diambil dari kata Arang (jarang) yang berarti bahwa
Penduduk di daerah tersebut berjumlah sedikit. Sedangkan Dusun Pencil sendiri terlepas dari filosofi Jawa
bahwa Pencil itu berararti Mencil
(mengucilkan diri) mengakibatkan Dusun Pencil menjadi Dusun yang paling sulit
untuk dilalui dari semua Dusun di Desa Medono. Medannya yang sangat sulit dan
jalanan yang curam menjadi alasan daerah ini masih menjadi PR atau pekerjaan
Rumah bagi Pemerintah Desa untuk memajukan Dusun Pencil dari isolasi nama Mencil terrsebut.
Nama
Dusun yang kedua adalah Dusun Pundung. Dusun ini terletak tak jauh dari Dusun
Pencil. Jarak antara dua dusun ini hanya sekitar 25 meter dari perbatasan.
Kedua dusun ini berbatasan langsung dan bersebelahan letaknya. Dari pusat
pemerintahan Desa, kedua Dusun ini mempunyai satu arah untuk dua jalur yang
masing masing menuju ke Dusun Pencil dan Dusun Pundung. Menurut Sesepuh Desa
Medono, Dusun Pundung berdasar pada kebiasaan masyarakat di daerah itu pada
waktu dulu. Masyarakat yang sebagian besar senang pergi marantau itu (bahkan
hingga kini), senang sekali menumpuk kekayaan untuk membangun rumah ataupun
untuk membeli lahan di Dusun. Dalam bahasa Jawa, senang menumpuk harta adalah mundung(menumpuk sesuatu). Tidak aneh
kalau dari daerah itu lahir pola hidup yang mewah dan berlomba lomba untuk
mengumpulkan harta sebanyak mungkin dari berbagai macam profesi yang ada. Bahkan
ada lelucon yang mengatakan kalau ingin kaya, maka nikahilah orang dari Dusun
Pundung. Tentu saja ini hanyalah sebuah lelucon, tapi benar atau tidaknya
Wallahu Alam. Terlepas benar atau tidaknya guyonan yang sering dijabarkan dalam
perbincangan ringan ini menjadi tolok ukur kehidupan warga Dusun Pundung yang
memang paling rendah tingkat kemiskinannya dibanding tiga Dusun lainnya di Dusun Medono.
Dan
yang ketiga adalah Dusun Medono. Dusun yang saat ini menjadi pusat pemerintahan
Desa Medono adalah sebuah Dusun dengan cerita unik dan nyata yang membuat nama
Medono disematkan pada daerah ini. Dusun dengan aliran sungai terbesar kedua
setelah sungai Serayu ini dinobatkan menjadi Dusun yang memiliki sejarah cerita
paling dramatis setelah kejadian pada tahun 1945-1949.
Tertulis pada Prasasti Juang
(1945-1949), di Desa Medono terdapat sebuah kelompok pejuang yang
mempertahankan daerah Kesatuan Republik Indonesia dengan Landasan Hukum
Pancasila-nya dari tangan tangan para perusuh yang hendak menegakkan Negara
Islam dengan cara Apatis. Tersebut dalam Prasasti Juang bertanda Remaja Mastepe ini, terkuak cerita lama
sejarah terbentuknya Desa Medono. Kala itu, semangat juang para pemuda di
Negara RI begitu mendarah daging sampai ke pelosok negeri termasuk di daerah
Dusun yang kala itu belum memiliki nama ( masih sering disebut daerah Karang Tengah karena letaknya yang
berada di tengah diantara 4 Dusun dan masih terdapat bebatuan keras semacam
karang di daerah sungai besar pada saat itu).
DI/TII atau yang merupakan singkatan dari Darul Islam/Tentara Islam
Indonesia adalah sebuah gerakan yang dipimpin oleh SM Kartosuwiryo untuk
mendirikan Negara Islam Indonesia [NII]. Pada kenyataannya Kartosuwiryo sempat berhasil
mendirikan NII pada tanggal 7 Agustus 1949 di Jawa Barat.
Kartosuwiryo yang merupakan tokoh berpenhgalaman dalam bidang
pemerintahan dan tata Negara ini sebagai pendiri NII benar-benar sudah
mempersiapkan berdirinya NII. Jadi Jauh hari sebelum NII didirikan dia sudah
memperisiapkan Undang-Undang Dasar NII terlebih dahulu. Dengan demikian berdirinya NII sudah
lengkap secara administratif.dan tertata.
Tentara sebagai instrument keamanan
Negara juga sudah dibentuk oleh Kartosuwiryo dengan TII-nya. Mayoritas dari
mereka adalah laskar Hizbullah dan Sabilillah serta laskar-laskar tradisonal
lainnya yang ada untuk merebut kemerdekaan dari Belanda yang tidak mau mundur
dari sebagian wilayah Indonesia yang menjadi wilayah Belanda akibat perjanjian
Renville. Mereka diberdayakan menjadi tentara oleh Kartosuwiryo.
Undang-undang asasi NII hampir sama dengan UUD 1945 kecuali pada hukum
yang mengacu pada syariat Islam. Kesamaan itu sangat wajar mengingat
Kartosuwiryo dulu adalah aktivis PSII [Partai Syarikat Islam Indonesia] yang
berjuang berlakunya syariat Islam di Indonesia. Karena Konstituen tidak bisa
menjadikan Islam sebagai dasar Negara Indonesia maka Kartosuwiryo keluar dan
memperjuangkan Islam sebagai dasar Negara di luar parlemen. Itulah mengapa
sebenarnya banyak pihak yang menyatakan bahwa jika Konstituen mengesahkan Islam
sebagai dasar Negara, Kartosuwiryo tidak akan memberontak membentuk NII atau
Negara Islam Indonesia. Akan tetapi terlepas dari itu semua, sebenarnya
kemajemukan dari Negara republic Indonesia adalah yang paling utama harus
diperhatikan mengingat tidak semua Orang Indonesia beragama Islam.
Lembaga-lembaga Negara NII, merujuk
pada Undang-undang NII terdiri dari Majelis Syura, Dewan Syura, Imam,
Dewan Imamah dan Dewan Fatwa. JIka dikomparasikan dengan
lembaga Negara Indonesia saat ini Majelis Syura sama dengan MPR, Dewan
Syura dengan DPR, Imam dengan Presiden, Dewan Imamah sama dengan kabinet dan
Dewan Fatwa hamper sama dengan Dewan Pertimbangan Agung.
Pasal-pasal dalam Undang-undang juga isinya hampir sama seperti misalnya bumi,
air dan kekayaan alam yang bermanfaat bagi hajat hidup orang banyak dikuasai
oleh Negara.
Satu yang membedakan NII dengan Negara
Kesatuan Republik Indonesia adalah pada pemberlakuan syariat Islam sebagai
hukum negara. TII selaku tentara NII dihadapkan pada kondisi peperangan untuk
mempertahankan NII dari pemerintahan resmi Indonesia yang menghendaki mereka
ābertobatā. Kondisi perang itu membuat NII membagi masyarakat menjadi Muslim
dan Kafir. Yang dimaksud muslim jelas para pengikut NII sementara kafir adalah
orang-orang yang tidak setuju dengan NII. Itulah mengapa NII terus-terusan
berkonfrontasi dengan tentara republik.
Karena sejarah panjang itu pula yang
kemudian bergejolak menjadi mata pisau di lapisan masyaraklat bawah. Paham yang
berbeda dan semangat juang yang tidak semestinya menjadikan DI/TII menjadi
bumerang bagi rakyat Indonesia sendiri. Tetapi nasionalisme adalah harga mati
yang tak bisa ditukar dengan apapun. Akidah tetap akidah akan tetapi membelot
pada Negara yang berlandaskan Pancasila adalah pengkhianatan untuk Bangsa yang
merdeka.
Maka begitu mendengar pasukan DI/TII
akan melewati Dusun Panto (sebelah Desa Medono) dan Karang Tengah (pada waktu
itu Medono belum ada) dari Jogja menuju Jawa Barat, sesegera mungkin pasukan
atau tentara tradisional yang tergabung dalam Remaja Mastepe berangkat
menghadang pasukan DI/TII di perbatasan. Pertempuran pun tak terelakkan lagi,
antara kubu DI/TII dan Kubu Remaja Mastepe. Kemungkinan besar, apabila tidak
ada perlawanan dari Remaja Mastepe kala itu, pastilah warga sekitar akan
terkena dampak dari pemberontakan yang dilakukan DI/TII. Remaja Mastepe itu
sendiri adalah gabungan dari para Pelajar Purwokerto dan tentara tradisional
yang diutus secara khusus untuk menghadang DI/TII di Dusun panto.
Setelah pertempuran selesai dan
Pasukan DI/TII berhasil diusir dari daerah Panto dan sekitarnya, rombongan
Remaja Mastepe ini pun beristirahat dan mendirikan posko di karang tengah.
Menilik daerah yang belum memiliki nama, akhirnya orang-orang ini pun
melontarkan kalimat-kalimat pendek yang pada akhirnya menciptakan menjadi
jargon dari Dusun Medono. Begini kurang lebih isi percakapannya;
ā
untung wae awake dewe iso ngusir DI/TII neng daerah liyan..ā
āiyo..nadyan
sithik pasukan lan perlawanan-e..rada med med tapi ono hasil-e..ono
perlawanane.ā .
Yang
kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia kurang lebih adalah;
āuntung
saja kita bisa mengusir DI/TIIke daerah lainā
āiya..walaupun
pasukan kita Cuma sedikit dan perlawanannya lumayan hangat tapi ada
hasilnya..ada perlawanannya.ā.
Mengacu pada kata med med (lumayan greget, lumayan hangat) tapi ono (ada) akhirnya menjadi sebuah kata yang disambung dan menjadi
pendek dalam pengucapan lidah orang Jawa. Kata med med tapi ono itupun
akhirnya disambungkan menjadi Medono. dusun yang tadinya sering dijuluki Karang
tengah itupun mulai dikenal orang dengan sebutan Dusun Medono.
Itulah sekelumit cerita yang mengawali
lahirnya Desa Medono mengacu pada Prasasti Semangat Juang yang tertera di
dinding Balai Pertemuan Desa Medono. prasasti itu sendiri dibuat pada tahun 1981
oleh para anak cucu anggota Remaja Mastepe ketika napak Tilas pengorbanan Ayah
dan kakek mereka dalam membela Negara Kesatuan Republik Indonesia di Desa
Medono.
Dan yang terakhir adalah Dusun
Domasan. Konon, daerah Domasan adalah daerah pegunungan yang mempunyai hutan
sangat lebat dan tidak bernama. Daerah itu tidak berpenghuni. Kalaupun ada,
hanya sedikit orang yang bertempat tinggal di daerah pinggir hutan itu. Tempat
tinggal yang jauh dari pusat pemerintahan di waktu itu dan medan yang sangat
sulit membuat penduduk daerah hutan malas untuk pergi jauh dari tempat
tinggalnya dan jarang bersosialisasi dengan daerah lain.
Suatu ketika, ada seorang penduduk
dari daerah lain pergi ke hutan untuk mencari kayu bakar. Penduduk tersebut
tidak mengetahui kalau ternyata di sekitar hutan tersebut ditempati oleh
beberapa orang yang memang tidak suka bepergian sehingga tidak ada yang tahu
keberadaannya. Pria yang mencari kayu bakar itupun dengan santainya memunguti
kayu dan dahan kering di area sekitar hutan. Ketika sedang serius mengikat
kumpulan kayu di hadapannya, tiba tiba dia melihat sekelebat bayangan yang
berlari. Karena penasaran, pria itupun mengikuti bayangan yang tadi ada di
belakangnya. Sampai akhirnya pria itu sampai di pinggiran hutan dan tempat itu
terlihat asing untuknya karena belum pernah dilihatnya ada pemukiman kecil di
pinggiran hutan. Setelah mencari-cari, akhirnya dia bertemu dengan perempuan
yang wajahnya cantik dan dandanannya mirip pengiring pengantin. Pria itupun
bertanya tentang pemukiman dan tempat itu serta siapa orang yang tadi berlari di
dalam hutan. Akhirnya wanita itupun menjelaskan bahwa dirinyalah yang tadi di
hutan.
Setelah kejadian itu, akhirnya terbukalah
rahasia yang ada di balik hutan nan lebat yang selama ini belum pernah
diketahui oleh masyarakat luas. Dan karena sosok wanita yang cantik mirip Dumas (dalam acara pernikahan Jawa,
pengiring pengantin wanita disebut sebagai Dumas), maka daerah itupun disebut
Dumasan. Karena lidah Jawa, maka penyebutan kata Dumasan bergeser menjadi
Domasan dan terkenal hingga sekarang. Karena dasar keturunan yang cantik
itupun, wanita wanita dari daerah Domasan dikenal cantik cantik dan luwes mirip
Dumas.
Demikian sekelumit cerita legenda yang
ada di Desa Medono. benar dan tidaknya cerita tersebut hanya para pendahulu
kita yang tahu. Tetapi yang pasti, untuk melestarikan budaya bangsa, legenda
desa adalah salah satu warisan budaya yang tidak bisa diabaikan keberadaannya
dan wajib untuk dilestarikan demi kelanjutan pilmu pengetahuan anak cucu kita
sehingga tidak tergerus oleh kemajuan zaman dan derasnya arus globalisasi yang
mau tidak mau berpengaruh juga pada pola pikir dan budaya baru sehingga
melenakan kaum muda di Negara ini.
ayooo...kasih komentar yang membangun disini hhe
BalasHapus