Sunday, April 6 2025

Header Ads

Breaking News
recent

PEKAN PANCASILA



Saya dikasih wejangan untuk menyiarkan pesan pesan kesetiaan terhadap Negara Indonesia kepada banyak orang terlebih warga di Desa saya oleh beberapa orang termasuk Dosen saya dulu sewaktu kuliah pak Samsul Munir Amin. Beliau adalah Seorang Dekan di Fakultas Ilmu politik dan Dakwah di Universitas tempat saya dulu menimba ilmu, UNSIQ (Universitas Sains Al-Qur’an.). Katanya saya harus Hubbul Wathon Minal Iman. 

Saya juga belum paham betul apa itu artinya Hubbul Wathon Minal Iman yang sebenar benarnya ARTI he he. Ini bukan karena saya mantan mahasiswanya, Ini juga bukan tentang kaitan saya dan pekerjaan saya. Ini adalah tentang rasa galau saya kalau melihat dan mendengar banyak yang bilang bahwa katanya Kebhinekaan mulai pupus di Negeri ini. Memang si, Begitu banyak postingan di Media Sosial yang saya baca akhir akhir ini bermuatan provokatif, Persekusi dan SARA. Ini juga bukan tentang saya yang mencoba untuk bisa mengaplikasikan pemikiran dalam sebuah tulisan. Ini hanya tentang saya yang gundah dan ingin menyampaikan suara hati saya tentang Kecintaan saya pada Negeri ini untuk semua yang membaca  tulisan ini. Sebelumnya saya perkenalkan dulu dasar darimana saya mulai berpikiran seperti ini…hhe
Dulu…sebelum saya mengenal apa itu Bhineka, saya hidup di dunia yang “sejenis”. Dalam arti kata keluarga dan lingkungan beragama Islam semua. Menjelag masuk SMP dan SMA, saya hanya mendapati segelintir lkecil perbedaan agama disekolah, dan itu tidak member efek apapun dalam kehidupan saya. Agama saya ya Islam, agamanya dia ya agamanya dia. Itu bukan urusan saya dan dia juga tak berhak mencampuri urusan Agama saya. Kami masing masing berjalan lewat pemahaman dan tafsiran kami tanpa pernah berseteru paham. Kami damai dalam perbedaan.
Lalu begitu masuk kuliah di Universitas yang semuanya dididik secara Islami, bernuansa Islam pula, saya malah menemukan sesuatu yang baru. Sesuatu yang belum pernah say pelajari sebelumnya. Sesuatu yang mulai saya amati secara intens. Yaitu perbedaan dalam persamaan. Ya…saya mulai tertarik mencermati ini ketika teman saya Ika Itrawati mengenalkan saya pada dunia Organisasi Mahasiswa yang memperjuangkan hak hak kaum buruh, petani dan sebagainya yang disebut FMN( kalau ga salah itu kepanjangan dari Front Mahasiswa Nasional…karena saya bukan anggota FMN, tapi pernah mengikuti kegiatan yang diadakan FMN he he).
Saya juga mulai tertarik menggali potensi perbedaan lewat tulisan melalui ajakan teman yang lainnya lewat sebuah karya sasta bersama mas Ismail, mb Dewi, dan beberapa orang yang tidak bisa saya perjelas satu persatu (karena kurangnya daya ingat saya ..maaf) lewat perkumpulan bernama Lembaga Pers Mahasiswa. Di forum ini saya mulai menelisik lebih jauh tentang adanya keindahan saat kita berada pada posisi dan situasi yang berbeda. Saya belajar tentang indahnya beradu pendapat tetapi masih memegang ruh yang sama. Saya juga mulai “melirik” dan sedikit “cerewet” terhadap fenomena yang ada pada waktu itu lewat tulisan. Pernah membuat agak geger dengan meloloskan salah satu karya sastra yang agak “pedas” menyindir dan akhirnya memberi makna yang luar biasa dalam proses belajar saya. Dari proses itu saya lebih belajar keras lagi agar banyak orang BANGUN dari leha leha dan mulai bergerak meski baru sebatas lewat tulisan.
Dalam jeda waktu antara jadwal kuliah dan rutinitas di kampus lainnya, saya mengenal seorang Hafidhoh yang darinya saya belajar banyak tentang agama. Meski tak sebanyak apa yang bisa saya serap, tapi mb Chafidhotul Ulya sangat membantu saya memperinci ajaran agama yang tadinya hanya saya pahami kulit luarnya saja. Dari dia saya banyak mengenal tokoh tokoh dan beberapa koleksi buku bagus dari berbagai macam literature dan saya berterima kasih sekali akan pengetahuan dan pengalaman selama bergaul dengannya meski tak lama.
Dari dalam kampus juga saya mengenal beberapa pandangan yang berbeda. Dimulai dari banyaknya wawasan baru tentang perkembangan sastra di dunia barat, pengaruh Islam dalam membentuk sebuah peradaban, dan adanya perbedaan yang begitu indah karena Allah yang mencipta. Dari para tamu di kampus yang membeir banyak inspirasi untuk lebih mengenal dunia di luar sana, dan member imajinasi yang indah tentang Kekuasaan Allah di muka bumi ini.
Paparan diatas baru sekelumit dari perjalanan saya mengenal perbedaan. Maka mulailah saya masuk ke dunia kerja. Setelah lepas dari lingkungan yang penuh teori, saya masuk ke dalam lingkungan yang realita dan teori tidak selalu berjalan bersamaan. Ada kalanya teori itu hanya ada di laporan SPJ, dan ada kalanya realita itu lebih pelik dari sekedar Aplikasi yang ter Update sekalipun.
Saya ternyata sudah memasuki Dunia bebas, dimana masyarakat memegang peranan penting dalam pengambilan sebuah keputusan. Dunia dimana teori hanya menjadi syarat wajib turunnya dana untuk membangun masyarakat. Ini sudah biasa katanya. Ini sudah hal yang lumrah dan umum. Jadi saya ikuti saja alurnya selama tidak melenceng dari norma yang ditetapkan masyarakat itu sendiri. Hanya saja kalau mau jujur, lingkungan yang seperti ini membuat saya merasa dilema. Bagaimana tidak dilema kalau dulu sewaktu saya menjadi mahasiswa koar koar dlama tulisan maupun ucapan tentang bla bla dan bla…sekarang saya banyak menjelaskan pada orang di luar sana bla bla bla yang  bahkan dulu saya tersenyum kalau mendengarnya. Seperti itu lah….
Dan berkaitan dengan KeBhinekaan yang saya ucapkan tadi diatas, saya makin banyak belajar lagi. Saya mulai mendapati banyak sekali perbedaan pendapat, perbedaan agama, dan perbedaan partai serta tafsiran. Di luar itu, di Media Sosial pun sama. Kalau dulu saya hanya berteman dengan orang orang yang pham kamus Inggris, sekarang teman saya banyak yang paham kamus Kehidupan sesungguhnya hhe. Meskipun dalam definisi yang agak ngawur mungkin bagi penikmat seni, saya akan sampaikan suara hati saya. Saya berbicara bukan atas nama instansi, bukan atas nama Alumni, bukan pula atas nama golongan. Ini murni tafsiran saya tentang KeBHINEKAan di Negari ini.
Perbedaan itu pada dasarnya adalah ciptaan Tuhan. Jadi kalau ada yang menolak adanya perbedaan, menurutku dia sama saja dengan menolak adanya hukum alam hhe. Perbedaan yang ada itu bisa dari segi pemikiran, gaya hidup, agama, adat kebiasaan atau bisa pula beda Negara dan benua. Jadi apapun perbedaan itu, intinya adalah IA-nya tidak sesuai dengan cara hidup kita. Orang yang tinggal berlainan tempat tidak bisa serta merta dipaksa mengikuti adat istiadat seperti yang kita punya. Pun begitu seperti Agama. Kita tidak boleh memaksakan agama kita beserta aturannya pada orang lain. Tidak perlu diulas lebih jauh karena PANCASILA sudah mengatur dan sudah dijadikan ideology di Negara ini. Itu harga yang diperjuangkan oleh para Pahlawan kita lho. Sampai titik darah penghabisan. Makanya kalau ada yang bilang NKRI harga mati, saya sangat setuju.
 Yang jadi sumber masalahnya adalah ketika ada beberapa orang yang coba melawan arus itu. Ingin mengoyak ideology bangsa dengan dalih agamanya. Ini bukan tentang kasus Pilkada, kasus Demo, kasus Persekusi, kasus penistaan agama, kasus korupsi missal, kasus duta pancasila, kasus perzinahan,  atau apapun yang sedang marak terjadi akhir akhir ini. TIDAK…ini sudah lama sekali terjadi. Hanya pertumbuhannya itu seperti Kanker. Ada stadium-nya, ada tingkatannya. Karena sekarang era digital, era medsos dan era reformasi makanya seperti “tak berbaju” lagi pola pikir seperti itu berkembang pesat. Ada yang mendapat bagian mencari bibit, menyiapkan lahan dan menanam, alalu ada juga yang memupuknya. Tinggal kita itu mau atau tidak dijadikan bibit, dijadikan lahan atau malah bagian dari pupuk-nya??
Kalau saya bicara masalah ideology kemudian saya di cap kafir atau disuruh memakai kain kafan, saya malah merasa heran. Saya kafir darimana kalau di hati saya ada Iman terhadap agama saya? Saya kafir darimana kalau saya mengimani ajara agama saya? Saya kafir darimana kalau saya masih sholat, masih puasa dan masih yakin sekali kalau saya ini Islam. Lalu kalau yang berkoar di luar sana mengkafirkan semua orang, apakah ibadahnya juga sudah bagus? Apakah dia juga sudah menghormati orang lain sebagaimana dia minta dihormati? Kalau yang diluar sana meminta laknat Allah turun pada saudaranya sesama warga Negara Indonesia, apakah dia sudah yakin kalau azab Allah dan Laknatnya tidak akan mengenai dirinya juga?? . yang saya percaya, sesungguhnya Iman dan islam itu tidak hanya diucapkan, tapi DILAKUKAN.
Miris hati saya kalau lihat perkataan sesama muslim saling mengancam, saling melaknat dan saling mengkafirkan manusia lainnya. Iya…ok. Mgkin ada yang beda pendapat dan tafsir. Tapi bukankah itu bisa disampaikan dengan cara yang baik? Dengan cara yang cerdas dan dengan aturan yang ada. Kalau apa apa semaunya sedniri bukankah sama saja dengan merusak? Sama saja dengan mempercepat kehancuran norma di negeri ini? Lalu dimana letak indah-nya syiar jika begitu Pak..Bu…
Pancasila itu diciptakan bukan untuk memecah belah warga negaranya, bukan pula untuk menjunjung tinggi slah satu golongan saj. Pancasila itu diamalkan oleh seluruh warga Negara yang Di KTP dan KKnya tertera sebagai WNI. Kalau yang tidak mau melaksanakan dan mengamalkan ya…jangan minta disebut WNI to? Gitu aja kok repot…
Pancasila itu menjamin setiap perbedaan hak individu yang ada di Negara ini. Kebebasan dan perbedaan yang tentunya bisa diterima oleh aturan masyarakat juga. Kalau perbedaan itu sudah tak dianggap sebagai keberkahan Allah atas negeri ini, lalu dimana lagi diletakkan nikmat atas adanya Pancasila dan kemerdekaan yang sesungguhnya?
STOP untuk saling menyalahkan,saling mengkafirkan orang lain, saling melaknat sesame muslim, saling menghina terhadap sesama manusia, saling mencaci terhadap golongan lain, saling menghujat di media massa.
Jadikan momentum ini untuk lebih toleran lagi, untuk lebih menghormati hak orang lain seperti anda ingin dihormati juga, untuk lebih mencintai Negara ini dibanding Negara lain. Kita lahir disini, besar disini dan mungkin akan meninggal dinegara ini juga.
#SAYA CINTA NKRI dan #SAYA CINTA PANCASILA

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.