PEKAN PANCASILA
Saya dikasih
wejangan untuk menyiarkan pesan pesan kesetiaan terhadap Negara Indonesia kepada
banyak orang terlebih warga di Desa saya oleh beberapa orang termasuk Dosen
saya dulu sewaktu kuliah pak Samsul Munir Amin. Beliau adalah Seorang Dekan di Fakultas Ilmu politik dan Dakwah di
Universitas tempat saya dulu menimba ilmu, UNSIQ (Universitas Sains Al-Qur’an.).
Katanya saya harus Hubbul Wathon Minal Iman.
Saya juga belum paham betul apa
itu artinya Hubbul Wathon Minal Iman yang sebenar benarnya ARTI he he. Ini bukan
karena saya mantan mahasiswanya, Ini juga bukan tentang kaitan saya dan
pekerjaan saya. Ini adalah tentang rasa galau saya kalau melihat dan mendengar
banyak yang bilang bahwa katanya Kebhinekaan mulai pupus di Negeri ini. Memang si,
Begitu banyak postingan di Media Sosial yang saya baca akhir akhir ini
bermuatan provokatif, Persekusi dan SARA. Ini juga bukan tentang saya yang mencoba
untuk bisa mengaplikasikan pemikiran dalam sebuah tulisan. Ini hanya tentang
saya yang gundah dan ingin menyampaikan suara hati saya tentang Kecintaan saya
pada Negeri ini untuk semua yang membaca tulisan ini. Sebelumnya saya perkenalkan dulu
dasar darimana saya mulai berpikiran seperti ini…hhe
Dulu…sebelum
saya mengenal apa itu Bhineka, saya hidup di dunia yang “sejenis”. Dalam arti kata
keluarga dan lingkungan beragama Islam semua. Menjelag masuk SMP dan SMA, saya
hanya mendapati segelintir lkecil perbedaan agama disekolah, dan itu tidak member
efek apapun dalam kehidupan saya. Agama saya ya Islam, agamanya dia ya agamanya
dia. Itu bukan urusan saya dan dia juga tak berhak mencampuri urusan Agama
saya. Kami masing masing berjalan lewat pemahaman dan tafsiran kami tanpa
pernah berseteru paham. Kami damai dalam perbedaan.
Lalu begitu
masuk kuliah di Universitas yang semuanya dididik secara Islami, bernuansa
Islam pula, saya malah menemukan sesuatu yang baru. Sesuatu yang belum pernah
say pelajari sebelumnya. Sesuatu yang mulai saya amati secara intens. Yaitu perbedaan
dalam persamaan. Ya…saya mulai tertarik mencermati ini ketika teman saya Ika
Itrawati mengenalkan saya pada dunia Organisasi Mahasiswa yang memperjuangkan
hak hak kaum buruh, petani dan sebagainya yang disebut FMN( kalau ga salah itu
kepanjangan dari Front Mahasiswa Nasional…karena saya bukan anggota FMN, tapi
pernah mengikuti kegiatan yang diadakan FMN he he).
Saya juga
mulai tertarik menggali potensi perbedaan lewat tulisan melalui ajakan teman yang
lainnya lewat sebuah karya sasta bersama mas Ismail, mb Dewi, dan beberapa
orang yang tidak bisa saya perjelas satu persatu (karena kurangnya daya ingat
saya ..maaf) lewat perkumpulan bernama Lembaga Pers Mahasiswa. Di forum ini
saya mulai menelisik lebih jauh tentang adanya keindahan saat kita berada pada
posisi dan situasi yang berbeda. Saya belajar tentang indahnya beradu pendapat
tetapi masih memegang ruh yang sama. Saya juga mulai “melirik” dan sedikit “cerewet”
terhadap fenomena yang ada pada waktu itu lewat tulisan. Pernah membuat agak
geger dengan meloloskan salah satu karya sastra yang agak “pedas” menyindir dan
akhirnya memberi makna yang luar biasa dalam proses belajar saya. Dari proses itu
saya lebih belajar keras lagi agar banyak orang BANGUN dari leha leha dan mulai
bergerak meski baru sebatas lewat tulisan.
Dalam jeda
waktu antara jadwal kuliah dan rutinitas di kampus lainnya, saya mengenal
seorang Hafidhoh yang darinya saya belajar banyak tentang agama. Meski tak
sebanyak apa yang bisa saya serap, tapi mb Chafidhotul Ulya sangat membantu
saya memperinci ajaran agama yang tadinya hanya saya pahami kulit luarnya saja.
Dari dia saya banyak mengenal tokoh tokoh dan beberapa koleksi buku bagus dari
berbagai macam literature dan saya berterima kasih sekali akan pengetahuan dan
pengalaman selama bergaul dengannya meski tak lama.
Dari dalam
kampus juga saya mengenal beberapa pandangan yang berbeda. Dimulai dari
banyaknya wawasan baru tentang perkembangan sastra di dunia barat, pengaruh
Islam dalam membentuk sebuah peradaban, dan adanya perbedaan yang begitu indah
karena Allah yang mencipta. Dari para tamu di kampus yang membeir banyak
inspirasi untuk lebih mengenal dunia di luar sana, dan member imajinasi yang
indah tentang Kekuasaan Allah di muka bumi ini.
Paparan diatas
baru sekelumit dari perjalanan saya mengenal perbedaan. Maka mulailah saya
masuk ke dunia kerja. Setelah lepas dari lingkungan yang penuh teori, saya
masuk ke dalam lingkungan yang realita dan teori tidak selalu berjalan
bersamaan. Ada kalanya teori itu hanya ada di laporan SPJ, dan ada kalanya
realita itu lebih pelik dari sekedar Aplikasi yang ter Update sekalipun.
Saya ternyata
sudah memasuki Dunia bebas, dimana masyarakat memegang peranan penting dalam
pengambilan sebuah keputusan. Dunia dimana teori hanya menjadi syarat wajib
turunnya dana untuk membangun masyarakat. Ini sudah biasa katanya. Ini sudah
hal yang lumrah dan umum. Jadi saya ikuti saja alurnya selama tidak melenceng
dari norma yang ditetapkan masyarakat itu sendiri. Hanya saja kalau mau jujur, lingkungan
yang seperti ini membuat saya merasa dilema. Bagaimana tidak dilema kalau dulu
sewaktu saya menjadi mahasiswa koar koar dlama tulisan maupun ucapan tentang bla
bla dan bla…sekarang saya banyak menjelaskan pada orang di luar sana bla bla bla
yang bahkan dulu saya tersenyum kalau
mendengarnya. Seperti itu lah….
Dan berkaitan
dengan KeBhinekaan yang saya ucapkan tadi diatas, saya makin banyak belajar
lagi. Saya mulai mendapati banyak sekali perbedaan pendapat, perbedaan agama,
dan perbedaan partai serta tafsiran. Di luar itu, di Media Sosial pun sama. Kalau
dulu saya hanya berteman dengan orang orang yang pham kamus Inggris, sekarang
teman saya banyak yang paham kamus Kehidupan sesungguhnya hhe. Meskipun dalam
definisi yang agak ngawur mungkin bagi penikmat seni, saya akan sampaikan suara
hati saya. Saya berbicara bukan atas nama instansi, bukan atas nama Alumni,
bukan pula atas nama golongan. Ini murni tafsiran saya tentang KeBHINEKAan di Negari
ini.
Perbedaan itu
pada dasarnya adalah ciptaan Tuhan. Jadi kalau ada yang menolak adanya
perbedaan, menurutku dia sama saja dengan menolak adanya hukum alam hhe. Perbedaan
yang ada itu bisa dari segi pemikiran, gaya hidup, agama, adat kebiasaan atau
bisa pula beda Negara dan benua. Jadi apapun perbedaan itu, intinya adalah
IA-nya tidak sesuai dengan cara hidup kita. Orang yang tinggal berlainan tempat
tidak bisa serta merta dipaksa mengikuti adat istiadat seperti yang kita punya.
Pun begitu seperti Agama. Kita tidak boleh memaksakan agama kita beserta
aturannya pada orang lain. Tidak perlu diulas lebih jauh karena PANCASILA sudah
mengatur dan sudah dijadikan ideology di Negara ini. Itu harga yang
diperjuangkan oleh para Pahlawan kita lho. Sampai titik darah penghabisan. Makanya
kalau ada yang bilang NKRI harga mati, saya sangat setuju.
Yang jadi sumber masalahnya adalah ketika ada
beberapa orang yang coba melawan arus itu. Ingin mengoyak ideology bangsa
dengan dalih agamanya. Ini bukan tentang kasus Pilkada, kasus Demo, kasus
Persekusi, kasus penistaan agama, kasus korupsi missal, kasus duta pancasila,
kasus perzinahan, atau apapun yang
sedang marak terjadi akhir akhir ini. TIDAK…ini sudah lama sekali terjadi. Hanya
pertumbuhannya itu seperti Kanker. Ada stadium-nya, ada tingkatannya. Karena sekarang
era digital, era medsos dan era reformasi makanya seperti “tak berbaju” lagi
pola pikir seperti itu berkembang pesat. Ada yang mendapat bagian mencari
bibit, menyiapkan lahan dan menanam, alalu ada juga yang memupuknya. Tinggal kita
itu mau atau tidak dijadikan bibit, dijadikan lahan atau malah bagian dari
pupuk-nya??
Kalau saya
bicara masalah ideology kemudian saya di cap kafir atau disuruh memakai kain
kafan, saya malah merasa heran. Saya kafir darimana kalau di hati saya ada Iman
terhadap agama saya? Saya kafir darimana kalau saya mengimani ajara agama saya?
Saya kafir darimana kalau saya masih sholat, masih puasa dan masih yakin sekali
kalau saya ini Islam. Lalu kalau yang berkoar di luar sana mengkafirkan semua
orang, apakah ibadahnya juga sudah bagus? Apakah dia juga sudah menghormati
orang lain sebagaimana dia minta dihormati? Kalau yang diluar sana meminta
laknat Allah turun pada saudaranya sesama warga Negara Indonesia, apakah dia
sudah yakin kalau azab Allah dan Laknatnya tidak akan mengenai dirinya juga?? .
yang saya percaya, sesungguhnya Iman dan islam itu tidak hanya diucapkan, tapi
DILAKUKAN.
Miris hati
saya kalau lihat perkataan sesama muslim saling mengancam, saling melaknat dan
saling mengkafirkan manusia lainnya. Iya…ok. Mgkin ada yang beda pendapat dan
tafsir. Tapi bukankah itu bisa disampaikan dengan cara yang baik? Dengan cara
yang cerdas dan dengan aturan yang ada. Kalau apa apa semaunya sedniri bukankah
sama saja dengan merusak? Sama saja dengan mempercepat kehancuran norma di
negeri ini? Lalu dimana letak indah-nya syiar jika begitu Pak..Bu…
Pancasila itu
diciptakan bukan untuk memecah belah warga negaranya, bukan pula untuk
menjunjung tinggi slah satu golongan saj. Pancasila itu diamalkan oleh seluruh
warga Negara yang Di KTP dan KKnya tertera sebagai WNI. Kalau yang tidak mau
melaksanakan dan mengamalkan ya…jangan minta disebut WNI to? Gitu aja kok repot…
Pancasila itu
menjamin setiap perbedaan hak individu yang ada di Negara ini. Kebebasan dan
perbedaan yang tentunya bisa diterima oleh aturan masyarakat juga. Kalau perbedaan
itu sudah tak dianggap sebagai keberkahan Allah atas negeri ini, lalu dimana
lagi diletakkan nikmat atas adanya Pancasila dan kemerdekaan yang sesungguhnya?
STOP untuk
saling menyalahkan,saling mengkafirkan orang lain, saling melaknat sesame muslim,
saling menghina terhadap sesama manusia, saling mencaci terhadap golongan lain,
saling menghujat di media massa.
Jadikan momentum
ini untuk lebih toleran lagi, untuk lebih menghormati hak orang lain seperti
anda ingin dihormati juga, untuk lebih mencintai Negara ini dibanding Negara lain.
Kita lahir disini, besar disini dan mungkin akan meninggal dinegara ini juga.
#SAYA CINTA NKRI
dan #SAYA CINTA PANCASILA
Tidak ada komentar: